Halo, Eleanor, my love.

Sudah lama ya, sejak terakhir kali aku mengunjungimu pada bulan September. Maaf, aku sedang sibuk menyelesaikan tugasku di sini. Di Haveleste.

Aku harap dirimu mau memaafkanku. Meskipun, kurasa kau pasti sudah memaafkanku dan mendoakanku dari atas sana. Karena berkat doamu, aku bisa melakukan semua ini.

Aku berhasil membalaskan dendamku. Kurasa kebenaran juga akan segera terungkap, tepat ketika rekaman ini ditemukan.

[tersenyum]

Eleanor, kau mungkin mau mendengar cerita tentang bagaimana aku melakukannya. Kalau kau ada di sini, aku yakin kau akan berkata bahwa aku bukanlah Joaquin Hawthorne yang selama ini kau kenal.

[menunduk, kemudian tertawa kecil]

Jo yang dulu mana mungkin berani memegang pisau untuk membunuh seseorang. Jo yang dulu pasti akan memaafkan dan menerima nasib buruk yang sebenarnya tidak pantas ia alami akibat perbuatan orang-orang jahat. Jo yang dulu mungkin akan berkata, “mungkin jalan takdirku memang begini.”

Namun, Jo yang sekarang sudah berbeda. Sejak menggunakan nama John, aku menjadi seseorang yang bahkan tidak akan dikenali oleh Jo yang dulu. John lebih berani melawan ketidakadilan, bahkan dengan cara yang tidak pernah terpikirkan oleh Jo. Menurut John, Jo terlalu baik, terlalu lembek, dan terlalu lapang hati. Itu bukan pujian karena sifat-sifat yang dulu dianggap sebagai kekuatan Jo justru menjadi kelemahannya.

Baiklah, aku akan menceritakan bagaimana aku membunuh Morwenna dan Daeron.

[duduk bersandar di kursi]

Sebenarnya, sejak awal aku sempat merasa pesimis karena profesi yang kupilih sekarang, yaitu pemilik laundry, membuatku jarang bertemu dengan Morwenna maupun Daeron yang bekerja di Marketing Office. Namun, ternyata keadaan memberiku kesempatan yang tidak pernah kuduga.

Suatu hari, Morwenna datang ke laundry-ku pada malam hari. Ia mau menggunakan layanan cuci ekspres yang selesai dalam waktu kurang dari 24 jam. Awalnya, aku sangat khawatir ia akan mengenaliku karena kami pernah bekerja sama cukup lama dahulu.

Namun, ia sama sekali tidak mengenaliku. Meskipun begitu, ia sempat terlihat berpikir ketika berbicara denganku di meja kasir. Jujur saja, saat itu aku sudah sangat takut rencanaku akan gagal.

Beberapa hari kemudian, aku melihat Morwenna mengunjungi apartemen pada malam hari. Sepertinya sekitar pukul 22.00, meskipun aku tidak terlalu ingat. Di situlah aku mulai mengikutinya. Ia tampak baru saja selesai memeriksa beberapa unit kosong yang akan dipasarkan dan mengambil foto-foto unit tersebut.

Aku sengaja menghampirinya saat ia sedang menunggu di depan pintu lift lantai lima. Aku membuka obrolan dengan berkata, “sungguh luar biasa ya, Marketing Haveleste. Jam segini masih bekerja. Pantas saja apartemennya bisa kembali ramai dengan cepat.”

Morwenna yang tadinya sibuk dengan ponselnya langsung menoleh ke arahku sambil memberikan senyuman canggung. Aku membalas senyumannya dan menatap matanya. Kupikir ia tidak akan melanjutkan percakapan basa-basi itu, tetapi ternyata tidak ia justru mengajakku berbicara lebih jauh. Sungguh, ia bersikap seperti bukan Morwenna yang kukenal dulu.

Ia memuji hasil laundry-ku yang bagus dan bersih, padahal aku hanya menawarkan layanan ekspres. Lalu, ketika ia menyinggung bahwa aku berbakat, sengaja kubawa obrolan itu ke kasus lama Haveleste.

“Haha, terima kasih. Banyak yang bilang aku berbakat. Tapi kenapa ya, ada orang yang tega membuatku terpaksa mengubur impianku?”

“Bahkan kau, Morwenna, tega sekali memilih tutup mulut dan menjadikanku tumbal. Padahal kau bisa memilih untuk bersuara dan menjalani hidup dengan tenang. Namun, pilihanmu justru menjadi bagian dari orang-orang yang menghancurkan hidupku. Apa hidupmu selama ini benar-benar tenang?”